oleh

Polda Jabar Amankan Oknum Perselingkuhan Guru Honorer

jurnalisnews.com – Perselingkuhan oknum guru honorer berinisial RIA dan RJ di salahsatu SMK di Purwakarta berakhir dijeruji besi.

Hubungan gelap ini terbongkar setelah video adegan hubungan layaknya suami istri diupload pelaku ke media sosial sehingga menjadi viral.
RIA melakukan hal tersebut karena kecemburuan, video diupload ke beberapa grup WhatsApp, hanya ingin meminta hubungannya dilanjutkan kembali.
Wadir Krimsus Polda Jabar, AKBP Hari Brata mengungkapkan bahwa Polda Jabar telah mengamankan pelaku perekam dan pemeran dalam video syur wanita berseragam PNS yang viral di media sosial, ” Kamis, 19 September 2019) sekitar pukul 20.19 Wib, RJ diamankan di Jalan Veteran Purwakarta, sedangkan RIA di Komplek Kota Permata Purwakarta, ” kata Wadir Krimsus Polda Jabar, AKBP Hari Brata didampingi Kasie Penmas Polda Jabar, AKBP Santi saat menggelar Konferensi Pers di Halaman Gedung Dit Reskrimsus Polda Jabar, Jalan Soekarno Hatta Bandung, Jumat, 20/9/2019.
Menurut Wadir Krimsus Polda Jabar, RIA adalah guru honorer mata pelajaran mesin otomotif dan RJ guru honorer mata pelajaran Bahasa Inggris. Kedua pelaku diketahui sudah menjalin hubungan perselingkuhan selama satu tahun. Dan masing-masing sudah menikah memiliki pasangan hidup yang syah suami istri.
Wadir Krimsus Polda Jabar menerangkan bahwa video tersebut direkam RIA tanpa sepengetahuan RJ dalam sebuah mobil di halaman parkir pusat perbelanjaan di Purwakarta. Video dibuat dengan tujuan untuk kenang-kenangan hubungannya dengan RJ.
Dan video syur tersebut sengaja disebar oleh RIA didasari rasa sakit hati, karena RJ mengakhiri hubungannya. Sehingga RIA menyebarkan video tersebut ke forum group Facebook. “Alasannya bahwa RIA tidak rela ditinggalkan dan mengakhiri hubungan dengan RJ, sehingga memotivasinya untuk mengunggah video ke grup tersebut,” ucapnya.
Karena perbuatannya RIA ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus video syur tersebut. Tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1) UU R1 No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. “Ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp2 miliar.

Komentar

TERBARU